#samerprojek | pengantar pameran oleh kurniadi widodo


Sebagai orang yang baru sekitar 6 bulan terakhir ini menggunakan smartphone, saya baru menyadari bagaimana gawai ini bisa menjadi sangat menyita perhatian. Sebelumnya,  saya menggunakan sebuah telepon genggam yang praktis hanya bisa melakukan/menerima panggilan telepon dan pesan teks. Karena saya sendiri juga cukup jarang menerima keduanya, tidak pernah ada banyak alasan untuk sering-sering mengecek telepon itu. Tidak lagi seperti itu sekarang. Saya ingat, di awal-awal memiliki smartphone, sepertinya yang lebih gembira dengan fakta bahwa saya akhirnya menggunakannya  adalah teman-teman saya ketimbang diri sendiri. Bersamaan dengan dimasukkannya saya ke grup-grup WhatsApp lingkaran-lingkaran pertemanan dan pemasangan aplikasi-aplikasi lainnya, dimulailah juga gelombang dering notifikasi yang sekarang sudah menjadi kelumrahan yang menemani hari-hari.

Seperti azan yang menjadi penanda panggilan menunaikan shalat, dering notifikasi aplikasi juga seolah menjadi panggilan untuk segera melakukan ritual menengok smartphone. Ada yang butuh dicek, ada yang harus segera direspon. Tapi setidaknya azan hanya berkumandang lima kali dalam sehari... Anda termasuk beruntung kalau hanya mendapat 5 notifikasi dalam sejam. Tentu saja, jika dirasa sudah terlalu mengganggu dering bisa dimatikan. Tapi godaan untuk selalu mencari tahu situasi dan kondisi terkini supaya tidak ketinggalan berita (FOMO - Fear of Missing Out) akan selalu mengganggu pikiran untuk kembali membuka gawai. Dan yang menyebalkan adalah ketika kita menyadari bahwa informasi yang kita dapatkan setelah terpanggil oleh notifikasi tersebut ternyata tidaklah penting. Anda yang tergabung dalam banyak grup komunikasi (dan seringkali secara terpaksa) pasti tahu perasaan ini. Tapi sebenarnya, setelah saya pikir-pikir, kekesalan saya terhadap situasi itu bukanlah karena informasi yang saya terima tidak penting, tapi lebih karena ketidakpentingan yang saya dapatkan bukanlah ketidakpentingan yang bisa saya nikmati. Ya, pada dasarnya kita semua pasti menyukai hal-hal yang tidak penting kok. Hanya saja hal tidak penting yang saya suka bisa sangat berbeda dengan hal tidak penting yang Anda suka.

Omong-omong tentang hal tidak penting, kadang-kadang jika diseriusi dia bisa menjadi sesuatu juga. #SamerProjek yang diinisiasi oleh  kikiretake, kemudian mengajak Ardhika Prananta, Farid Prasetya, dan PascallFerdinan ini misalnya, yang awalnya dilakukan untuk sekedar mengisi waktu luang dengan memanfaatkan benda-benda sederhana yang ada di sekitar mereka untuk dibuat menjadi video animasi penyerta berbagai dering nada panggil dari gawai yang mereka miliki. Tidak perlu ada gagasan serius untuk memulai proyek  sederhana seperti ini, tapi jika dilakukan secara konsisten, akumulasi dari output yang timbul bisa saja menjadi pemantik gagasan-gagasan segar berikutnya. Tentu saja output-output tersebut perlu diolah terlebih dulu sebelum gagasan yang mungkin tersembunyi di dalamnya bisa ditarik keluar. Dalam showcase di Lir ini, strategi yang mereka coba untuk melakukan itu adalah dengan menampilkan video-video itu bersamaan untuk bisa dilihat sekaligus dalam satu bidang. Di Instagram, tempat asli mereka mengunggah video-video ini, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena sistem linimasa Instagram hanya mengizinkan kita untuk melihat video-video ini secara linear. Sementara di sini, pembacaan-pembacaan baru bisa timbul ketika imaji-imaji yang sesungguhnya tidak berhubungan sama sekali berada sangat dekat satu sama lain. Apakah makna-makna baru yang timbul itu bisa jadi penting? Bisa saja ya, bisa juga tidak. Tapi sebagaimana Anda tidak akan pernah tahu notifikasi yang muncul di gawai Anda akan membawa informasi penting atau tidak penting sebelum Anda memutuskan mengeceknya, kemungkinan-kemungkinan baru juga hanya akan muncul ketika kita mencoba melakukan sesuatu, seperti presentasi #SamerProjek ini. Toh kalau ternyata hasilnya ternyata tidak sepenting itu, kita bisa saja memutuskan beralih untuk melihat ketidakpentingan-ketidakpentingan yang lainnya.

No comments:

others